![]() |
| Ketua FUI Bima Raya Ustadz Asikin |
Ujungnya mengarah pada pergeseran moral dan aqidah generasi penerus Bumi Dou Mbojo.
Menyikapi fenomena ini, Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bima Raya Ustadz Asikin angkat bicara. Ia mengaku tidak heran dengan dinamika yang terjadi saat ini.
"Saya tidak heran. Ini semua akibat modernisasi yang kebablasan. Nilai-nilai sudah tergerus. Anak-anak kita lebih banyak menyerap konten negatif dari HP daripada nasihat dari rumah dan masjid," ujar Ustadz Asikin kepada wartawan, Selasa (8/9/2026)
Bagi Ustadz Asikin, apa yang terjadi hari ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun lalu hal ini sudah diisyaratkan dan termaktub dalam Al Quran.
"Ini yang disebut dalam Al Quran sebagai fitnah dunia. Ujian yang datang silih berganti. Kalau iman tidak kuat, aqidah akan bergeser. Sedikit-sedikit coba miras, coba narkoba, tawuran dianggap keren, di medsos menghina, menghujat. Semua karena kosongnya ruh agama," jelasnya.
Ia menekankan, krisis yang terjadi bukan hanya krisis hukum, tapi krisis iman. Ketika rasa takut kepada Allah sudah hilang, maka apapun akan berani dilakukan.
FUI Bima kata Ustadz Asikin tidak tinggal diam. Untuk meminimalisir kerusakan moral ini, FUI telah menggelar *
"Mbolo Nae" atau pertemuan besar masyarakat Kota Bima.
Dari pertemuan itu lahir 7 poin rekomendasi* yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Bima, di antaranya,
Menggalakkan Sholat Berjamaah Lintas Instansi agar ASN dan pejabat menjadi teladan. Pemberantasan Peredaran Miras dan Narkoba secara tegas dan terpadu. Program Kota Bima BISA, sebagai payung besar pembinaan umat.
Poin rekomendasi lainnya, penguatan pendidikan agama di sekolah dan kampus. Pengawasan ketat terhadap konten media sosial. Pemberdayaan pemuda melalui kegiatan positif. Pengembalian nilai-nilai luhur daerah.
"Semua rekomendasi ini muaranya satu: mengembalikan generasi kita kepada Falsafah Bima 'Maja Labo Dahu'" tegasnya.
Falsafah "Maja Labo Dahu" menurut Ustadz Asikin adalah jati diri orang Bima. Maja berarti punya rasa malu, dan Dahu berarti punya rasa takut.
"Tapi malu dan takutnya bukan kepada manusia. Ini adalah ejawantah dari nilai keislaman. Malu berbuat maksiat karena Allah melihat. Takut melanggar perintah agama karena takut siksa Allah. Kalau ini hidup lagi di tengah masyarakat, saya yakin kenakalan remaja akan turun drastis," ujarnya.
Karena rekomendasi "Mbolo Nae" dinilai belum berjalan maksimal, FUI melalui Rapat Kerja Tahunan, kembali mengingatkan Pemerintah Kota Bima untuk segera mengeksekusi poin-poin tersebut.
Lebih jauh, Ustadz Asikin juga menyorot peran Aparat Penegak Hukum (APH). Ia mengapresiasi terobosan Kapolda NTB dengan Program Polmasyang menyasar pembinaan dan pendekatan humanis kepada masyarakat.
FUI Bima Raya sangat mendukung program Kapolda NTB Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja SE MH melalui Polmas yang bertujuan mulia, turun langsung ke masyarakat guna mengimbau kamtibmas yang aman dan kondusif.
"Program Polmas bagus. Itu sisi humanisnya, mengingatkan masyarakat betapa pentingnya kamtibmas yang aman dan kondusif. Tapi selain nasihat, penegakan hukum juga sangat diperlukan untuk memberi efek jera," tegasnya.
Ia mencontohkan dalam Islam, ada sanksi tegas agar masyarakat jera berbuat salah.
"Dalam Islam jika ada yang mencuri, ada hukumnya. Tujuannya bukan menyakiti, tapi agar yang lain takut berbuat sama. Nah, di dunia kita sekarang, kalau tawuran, pecandu narkoba, pengedar miras tidak ditindak tegas, mereka akan mengulang lagi," jelasnya.
Diakhir pernyataannya, Ustadz Asikin mengajak seluruh elemen — pemerintah, ulama, orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk bahu membahu.
"Penyelamatan generasi ini tanggung jawab kita bersama. Kalau bukan kita yang jaga anak-anak Bima, siapa lagi? Mari kita kembali ke masjid, kembali ke Al Quran, kembali ke Maja Labo Dahu," pungkasnya.(RED)


0 Komentar