Penataan Alun-Alun Serasuba "Menjaga Warisan Membangun Kebanggaan"

 

Bersih-bersih Alun-Alun Serasuba
Kota Bima, Dimensi. -Meski baru terbangun sebagian, penataan Alun-Alun Serasuba, mulai menampakan keindahan wajah Kota Bima. 

Lapangan Serasuba bukan sekadar ruang terbuka di jantung Kota Bima. Kawasan ini menyimpan nilai historis, sosial, dan kultural yang kuat sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat. 

Lebih dari tempat berkumpul dan berinteraksi, Serasuba merepresentasikan perjalanan sejarah dan denyut kehidupan warga Kota Bima dari masa ke masa.

Atas dasar itu, Pemerintah Kota Bima berkomitmen melakukan penataan menyeluruh agar kawasan ini menjadi ruang publik yang lebih tertata, nyaman, dan inklusif. Proses penataan terus berjalan dengan pendekatan strategis di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Kepala Dinas PUPR Kota Bima Didi Fahdiansyah, di sela kegiatan bersih-bersih Alun-Alun Serasuba, Selasa (21/4/2026), menjelaskan penataan Lapangan Serasuba dilaksanakan secara bertahap. 

Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk mengelola keterbatasan anggaran daerah tanpa mengurangi kualitas hasil pembangunan.

“Dengan sistem bertahap, pemerintah dapat memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan secara optimal, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Didi.

Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat melihat adanya pembukaan sementara pagar pembatas di area Lapangan Serasuba. 

Didi menegaskan, pada prinsipnya pagar tersebut sebelumnya direncanakan tetap dipertahankan sebagai bagian dari efisiensi anggaran, mengingat materialnya masih layak dan dapat dimanfaatkan kembali pada pekerjaan lanjutan.

Namun, sesuai hasil kesepakatan rapat dan evaluasi Pemerintah Kota Bima, pagar sementara dibongkar untuk sementara waktu guna mengakomodasi dua agenda besar yang menjadi urat nadi kehidupan religius dan budaya warga. Kebijakan ini diambil melalui pertimbangan matang dengan memperhatikan dua aspek utama:

Saat ini jelasnya, dokumen perencanaan masih dalam tahap reviu oleh Inspektorat sebagai bagian dari pengawasan internal pemerintah. Keterlambatan yang terjadi disebabkan proses penyesuaian terhadap Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) terbaru dari Kementerian PUPR. 

Langkah ini untuk memastikan kesesuaian dengan standar harga yang berlaku serta menjamin akuntabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi.

Pemerintah sambungnya, memahami dalam waktu dekat terdapat dua agenda besar yakni Pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah, guna memastikan kenyamanan beribadah umat muslim di Kota Bima.  

Kemudian, Festival Rimpu Mantika (KENl Perhelatan budaya kebanggaan yang telah masuk Kharisma Event Nusantara. Serasuba harus siap menyambut tamu dan peserta festival sebagai etalase budaya Bima.

"Pembukaan pagar sementara merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan mendesak warga, sembari terus bekerja di balik layar untuk menyelesaikan penataan fisik tahap selanjutnya,” jelas Didi.

Penataan ini tidak sekadar mempercantik tampilan, tetapi dirancang memberi manfaat nyata bagi seluruh masyarakat. Beberapa dampak yang diharapkan:, mendorong Pertumbuhan Ekonomi.

Kawasan yang tertata akan meningkatkan daya tarik masyarakat dan pengunjung, sehingga berdampak positif terhadap aktivitas ekonomi, khususnya pelaku UMKM di sekitar lokasi.

Penyediaan fasilitas yang ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas, menjadi bagian penting dalam konsep penataan.

Disisi yang paling penting pula sebutnya, pelestarian Nilai Sejarah dan Budaya.

Mengembalikan estetika kawasan dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan marwah sejarah Kesultanan Bima.

Lapangan Serasuba akan menjadi ikon kebanggaan baru Kota Bima yang bersih, tertata, dan mampu bersaing dengan ruang publik di kota-kota lain.

Pihaknya memohon doa dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung agar proses transisi administratif ini berjalan lancar. 

Dengan semangat kebersamaan, penataan Lapangan Serasuba diharapkan menjadi warisan bersama yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan ekonomi yang berkelanjutan.

“Mari bersama kita jaga Serasuba, untuk Kota Bima yang lebih tertata, lebih membanggakan,” pungkas Didi Fahdiansyah.(RED)

0 Komentar

Posting Komentar