![]() |
| Pegadaian "Mengatasi Masalah Tanpa Masalah" |
Setelah lonjakan kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran, tren baru justru muncul masyarakat Kota dan Kabupaten Bima kian cerdas mengelola aset.
Bukan dijual, emas justru digadaikan sebagai sumber likuiditas jangka pendek.
PT Pegadaian Cabang Bima mencatat lonjakan signifikan transaksi gadai di berbagai wilayah, terutama di PT Pegadaian UPC Ambalawi.
Fenomena ini menandakan perubahan perilaku keuangan masyarakat yang semakin melek literasi. Emas tak lagi sekadar perhiasan atau investasi diam, tapi menjadi “dana darurat” yang fleksibel tanpa harus kehilangan kepemilikan.
*Gadai Emas Dominasi, Bukan Dijual*
Berdasarkan data internal Pegadaian hingga akhir April 2026, terjadi peningkatan transaksi gadai yang cukup tajam dibandingkan periode sebelum Lebaran. Mayoritas transaksi didominasi gadai emas perhiasan. Masyarakat memanfaatkan pencairan cepat Pegadaian untuk memenuhi kebutuhan pasca hari raya: biaya masuk sekolah anak, tambahan modal usaha yang kembali bergeliat, hingga kebutuhan rumah tangga yang menumpuk.
“Pasca Lebaran, kebutuhan likuiditas masyarakat cenderung meningkat. Namun yang menarik, masyarakat kini lebih memilih menggadaikan emas dibandingkan menjualnya, terutama di Pegadaian UPC Ambalawi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa emas tetap dipertahankan sebagai aset jangka panjang,” ungkap Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Pegadaian Sumbawa, Mustofa.
Kesadaran ini menjadi sinyal positif. Masyarakat mulai memahami bahwa menjual emas saat butuh dana cepat berarti kehilangan potensi kenaikan nilai di masa depan. Dengan menggadaikan, emas tetap utuh, kebutuhan tunai terpenuhi, dan ketika kondisi keuangan pulih, emas bisa ditebus kembali.
*Pertumbuhan Dua Digit di Bima dan Sumbawa*
Pertumbuhan bisnis Pegadaian di wilayah ini pun melesat. Mustofa merinci, “Pegadaian UPC Ambalawi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 21,65% secara Year to Date. Sedangkan secara Area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa sendiri tumbuh sebesar 23,68%.”
Angka ini menegaskan bahwa gadai bukan lagi stigma, melainkan strategi keuangan yang rasional. Proses yang cepat, aman, dan transparan menjadi alasan utama masyarakat memilih Pegadaian. Tak perlu menunggu berhari-hari, dana bisa cair dalam hitungan menit setelah taksiran, dengan jaminan emas tetap tersimpan aman di Pegadaian.
*Gadai Bebas Bunga Jadi Magnet*
Untuk meringankan beban masyarakat pasca Lebaran, Pegadaian memperpanjang program Gadai Bebas Bunga hingga akhir April 2026. Melalui program ini, nasabah memperoleh pinjaman dengan biaya sewa modal 0%. Artinya, nasabah hanya mengembalikan pokok pinjaman tanpa tambahan biaya sewa.
“Program ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kehilangan aset berharganya. Emas tetap aman, kebutuhan tetap terpenuhi,” tambah Mustofa.
Strategi ini terbukti efektif menarik minat masyarakat yang ingin mengatur cash flow tanpa terbebani biaya. Apalagi di tengah fase pemulihan keuangan setelah pengeluaran besar di hari raya.
*Tren Positif Diakui Kanwil VII Denpasar*
Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar, Edy Purwanto, membenarkan tren peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi di NTB, terutama Kota dan Kabupaten Bima. “Kami melihat adanya peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran, terutama di Pegadaian Cabang Bima dan unit-unit layanan seperti Pegadaian UPC Ambalawi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami fungsi gadai sebagai solusi keuangan yang bijak dan terencana,” ungkap Edy.
Menurutnya, peningkatan ini bukan semata karena kebutuhan mendesak, tetapi juga karena edukasi keuangan yang masif dari Pegadaian. Masyarakat mulai menjadikan gadai sebagai bagian dari perencanaan keuangan, bukan hanya solusi terakhir.
*Lebih dari Sekadar Gadai: Ekosistem Keuangan Inklusif*
Dengan tren positif ini, PT Pegadaian optimistis pemanfaatan gadai akan semakin berkembang. Gadai tidak lagi dipandang sebagai solusi darurat, tetapi sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, PT Pegadaian yang berdiri sejak 1 April 1901 di Sukabumi kini telah bertransformasi menjadi lembaga keuangan inklusif. Sejak 2021, Pegadaian tergabung dalam Holding Ultra Mikro bersama BRI dan PNM dengan komitmen mendukung UMKM naik kelas.
Pegadaian juga mengukuhkan diri sebagai pelopor Layanan Bank Emas di Indonesia setelah mengantongi izin OJK pada Desember 2024. Layanannya mencakup Deposito Emas, Pinjaman Modal Kerja Emas, Jasa Titipan Emas Korporasi, hingga Perdagangan Emas. Untuk masyarakat umum, tersedia Tabungan Emas, Cicil Emas, dan Arisan Emas yang bisa diakses lewat outlet, agen, maupun aplikasi Tring! by Pegadaian.
Komitmen Pegadaian jelas: menghadirkan layanan keuangan yang inklusif, mendorong pemberdayaan masyarakat, serta meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Dan lonjakan gadai emas pasca Lebaran 1447 H ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bima sudah selangkah lebih maju dalam mengelola aset dan masa depan finansialnya.(RED)


0 Komentar